building a dream/house

Categories: Life, Love
Written By: Yan Yan Adhi Irawan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ceritanya.
Kamu membangun rumah.

 Awalnya kamu hanya tahu itu rumah.
Dua tingkat. X meter persegi.
Sedikit spasi di depannya untuk bunga dan hijau.
Itu saja.

 

Seiring waktu.

Kamu tahu ia punya berapa kamar.
Membayangkan bentuk atapnya.
Minimalis? Klasik? Mediterania?

 

Membayangkan lantai, warna, jendela.
Pintu utama yang akan menyambut tamu.
Atap. Tembok bata.

 

Perlahan ia berwujud.

 

Kamu mulai bisa melihat garasi kecil.
Cukup untuk satu mobil.
Dan scoopy di sampingnya.

 Di lantai satu akan ada dapur.
Mini tapi fully packed.
Terus side dining table. Biar hemat.

 

Sedikit demi sedikit kamu mulai membangunnya.

 

Kamu tahu persis bahwa nantinya di kamar pertama lantai bawah,
akan ada kepala optimus prime di dindingnya. Tiga dimensi. Ultra besar.

Dan kamar satunya lagi akan berhias bintang di langitnya.
Punya tempat tidur berkelambu. Dimana seorang putri kecil bisa bermimpi.

 

Dua lantai tak lagi cukup.
Kamu ingin dua setengah. Mezzanine level.

 

Hm. Di lantai setengah dua.
Kamu bisa membayangkan empuknya lazyboy disana.
Ruang keluarga. Ruang yang hidup.
Jangan lupakan HDTV dan setiap perangkatnya. Itu sih pasti.

 Kamu juga tahu buku apa yang akan berjejer di perpustakaan kecil kebanggaanmu.
Tetralogi laskar pelangi punya tempat istimewa disana.

 

Kamu beranjak meninggalkan ruang itu.
Menaiki tangga. Menggenggam railingnya.
Perlahan menapak setiap anak tangganya.

 Dan menuju kamar utama di lantai atas..

 

Tapi.
Sebentar.
Ada sedikit. Quirk.

 

Waktu kamu membangun rumah ini.
Ada pilar di tengahnya.
Ia tiang utama yang menopang semua struktur sang rumah.
Satu satunya tiang.

 

Iya, setiap arsitek dan insinyur sipil pasti akan resmi mencemooh desain rumah ini.
Well ini rumahmu. Dan peduli setan sama mereka.

Pikirmu.

 

 

. . .

 

 

Tapi.
Saat ini.
Kamu menyadari.
Pilar itu tak lagi ada disana.

 

Fiuh.

 

. . .

 

Itu ceritanya.

I’m building a dream.
Just like that.

 

Gua membangun sebuah mimpi. Cetak biru.
Gua pikir gua tau apa yang gua mau untuk 5, 10, 20 tahun ke depan.
50 tahun ke depan bahkan. Sort of.

 

Bukan mimpi yang perfect.
Masih banyak tambal sulam dimana mana.
Banyak banget.

 

Cuma yg gua ga sangka adalah itu.

 

Pilarnya ngga lagi disana.

Tiang utama yang menopang semua struktur sang mimpi.

Ia pergi.

 

. . .

 

Dan ini sekarang adalah memugar setiap batu bata yang pernah ada.

Memugar setiap keramik lantai, setiap bilah kayu, dan serpihan kaca yang pernah ada.

Untuk duduk di sebidang tanah kosong.

 

 

That could work.

share and enjoy:
  • Print
  • email
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Tumblr
  • Twitter
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

leave a reply

:D :) ^_^ :( :o 8O 8) ;-( :)) xD :wink: :evil: :P :whistle: :woot: :sleep: =] :sick: :straight: :ninja: :love: :kiss: :angel: :bandit: :alien:

Featured & Popular Articles